Festival Film Anak (FFA)

Festival Film Anak (FFA) Indonesia merupakan perhelatan akbar tahunan yang diselenggarakan oleh PKPA yang awalnya berkolaborasi dengan komunitas film indie di Sumatera Utara (SFD, MSM, KOFI '52, Kensington dan IMMC) dalam rangka mengadu bakat anak dan remaja (10-18 tahun) dalam cinematografi dan produksi film-film pendek (fiksi dan dokumenter) sesuai dengan dunia anak.

Debutnya dimulai tahun 2008. Komunitas Film Indie Sumut telah memberikan dorongan bagi anak-anak Indonesia untuk meningkatkan partisipasi dalam pembangunan super tim anak-anak kreatif, partisipatif dan kooperatif.

Pada perkembangan selanjutnya, PKPA terus mengalami reorganinasi, renegerasi dan terus mengembangkan jaringan komunitas film anak hingga Aceh, Jawa Tengah, Jawa Timur dan daerah lainnya di Indonesia.

Pada tahun 2011, atau setelah 4 tahun penyelenggaraan, FFA diorganisir oleh PKPA, SFD bekerjasama dengan FILA Community - Tanjungpura, Langkat.

Anak-anak Indonesia tidak perlu menjadi Superman, tetapi harus didorong untuk bisa menjadi Superteam. Itu tugas kita semua. Orang tua, guru dan orang-orang dewasa yang peduli masa depan anak, diharap akan ambil pusing tentang hal ini.

Sekretariat FFA Indonesia

Jumat, 11 Januari 2013

Semangat Baru FFA Lewat Kunjungan British Council


                                                                     Oleh Ismail Marzuki
Semangat dan rasa gembira atas acara Penganugrahan Festival Film Anak (FFA) rasanya masih belum hilang. Masih teringat jelas wajah-wajah ceria para sineas anak yang menang dan memegang hadiah. Cuplikan film mengiringi para pemenang saat mereka menuju tempat penyerahan hadiah. Riuh tepuk tangan juga seakan tidak berhenti saat itu.

Saat ini, belum lagi lengkap sebulan setelah acara penganugrahan, tanggal 03 Januari kemarin sebuah pesan singkat masuk. Pesan itu berasal dari pengirim bernama Camelia, seorang perwakilan British Council Jakarta. Camelia, yang lebih akrab disapa Kemi merencanakan kunjungannya ke Medan untuk bertemu penanggungjawab kegiatan FFA. Sesaat itu juga rencana kunjungan itu kami apresiasi dengan baik, hal ini tentunya dengan harapan Kemi dan British Councilnya mendapatkan informasi yang jelas.

Setelah empat hari menunggu rencana kunjungan Kemi, akhirnya kami sampai juga pada hari Selasa tanggal 8 Januari 2013 sesuai rencana pertemuan. Jam sudah menunjukan hampir pukul tiga sore, namun Kemi masih juga belum sampai. Penantian itu tidak begitu lama, setelah sebuah pesan singkat masuk. Dan ternyata benar, itu dari Kemi. Ia hanya sampaikan mohon maaf karena perjalanannya dari kampus Unimed akan memakan waktu cukup lama dan mungkin terlambat.

Melihat pentingnya FFA tetap harus dikampanyekan ke berbagai pihak, akhirnya kami, aku dan bang Misran menawarkan untuk pertemuannya dijadwalkan ulang pada malam hari. Tawaran itu bersambut baik dengan Kemi kembali menawarkan pertemuan informal di Merdeka walk pada pukul 20.00 Wib malam.

Sesampainya di Merdeka walk, segera ku temui bang Misran yang sudah menunggu. Ku lihat juga Shadiq, anaknya sedang asik menikmati salah satu permainan ditemani Ibunya. Pesan singkat Kemi kembali masuk yang mengarahkan kami masuk ke salah satu tempat di tikungan jalan.

Ternyata saat itu Kemi tidak sendiri. Ada beberapa laki-laki dan perempuan sebanya duduk saling berhadapan. Ternyata mereka masih berasal dari Medan, ada yang dari Da’ai TV, perwakilan majalah remaja, dan perwakilan media radio. Namun mereka tidak bergabung lama, karena sebelumnya sudah mengadakan pembicaraan dengan Kemi. Dan merekapun berpamitan pulang terlebih dahulu.

Hanya tinggal Kemi dan temannya, bernama Elsa, satu tim Kemi di British Council. Setelah perkenalan singkat dan sedikit bersenda gurau, keduanya membuka buku catatan kecil. Elsa terlihat dengan santai menanyakan hal-hal seputar FFA kepada bang Misran, dan tentu jawaban-jawaban bang Misran sangat jelas dan terperinci diutarakan. Sejarah, maksud dan tujuan, siapa saja yang pernah terlibat, prestasi perjalanan FFA, minat sineas anak, cakupan wilayah, workshop, proses administrasi, penjurian sampai pada penganugrahannya disampaikan dengan jelas. Bang misran menyampaikan juga bahwa sampai pada tahun 2012 sudah ada sebanyak 102 film yang ikut kompetisi FFA.

Penjelasan itu membuat pihak British Council sangat tertarik. Mereka memiliki banyak jaringan yang terbiasa melakukan kegiatan dalam hal pertunjukan, kebudayaan, pelatihan dan diskusi seniman. Secara pribadi Elsa sampaikan, walaupun untuk pertemuan kali ini masih dalam tahap saling mengenal, namun tidak menutup kemungkinan ke depan bisa melakukan kerjasama dalam kegiatan anak dan remaja.

Selasa, 08 Januari 2013



Gebyar Penganugrahan Festival Film Anak 2012

Suasana hari Sabtu yang biasanya sepi di lingkungan Radio Republik Indonesia (RRI) jalan Gatot Subroto Medan saat itu berubah total. Pagelaran musik di pelataran depan membuat beberapa pengendara berhenti. Belum lagi sekitar 250 orang tamu masuk dan memadati gedung serbaguna radio milik negara tersebut. Ratusan anak yang berusia di bawah 18 tahun bercampur dengan tamu-tamu dewasa dalam acara Penganugrahan Festival Film Anak 2012 (15/12).

Festival Film Anak, atau yang lebih dikenal dengan FFA merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan oleh Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) bekerjasama dengan berbagai kalangan sineas film seperti Sineas Film Dokumentary (SFD) dan Opieque Pictures dan sineas lainnya. Selain itu tahun ini keterlibatan Kinder Not Hilfe (KNH), Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana serta Pemerintah Kota Medan, juga RRI Medan sebagai media partner  sangat membantu.

Sebagai rangkaian kegiatan penganugrahan tersebut, penyelenggara juga menghadirkan hiburan tari persembahan anak-anak, nyanyian, modren dan sufle dance, serta music bigbox. Setelah pembukaan secara resmi dilakukan oleh ibu drg. Usma Polita Nasution M.kes sebagai perwakilan Walikota Medan, Master of Ceremony (MC) yang dibawakan oleh Uya dan Intan pun langsung menyampaikan nominasi insan dan film terbaik kategori dokumenter FFA 2012.

Suara para peserta dan tamu membahana saat mengapresiasi film yang tampil dalam trailer. Untuk insan  sutradara terbaik kategori film dokumenter dimenangkan oleh Rangga Setiawan dalam film Kota Harapan produksi Fila Komunitas, editor terbaik Ayril dalam film Dimana? produksi Medan Magnet dan penulis cerita terbaik oleh Mujiono dengan film Kota Harapan. (Ismail M)

Selasa, 06 November 2012

Kompetisi Festival Film Anak (FFA)
Sumatera Utara dan Aceh 2012
“ Kota Ramah Anak”
Kategori: Cerita Fiksi & Dokumenter
Total Hadiah Tabungan: 15 Juta Rupiah

KETENTUAN PARTISIPASI:

PESERTA:
-         Peserta adalah tim yang terdiri dari minimal 3 orang anak (berusia 6 - 18 tahun)
-          Tim didampingi seorang dewasa (Misalnya: Guru, orang tua salah seorang anggota tim atau staf lembaga pendamping anak)
-          Seluruh proses produksi film dan pemeran film minimal 80% adalah anak-anak dan keterlibatan orang dewasa hanya sebagai pembimbing dan perannya tidak lebih dari 20%.
-          Minimal seorang dalam tim pernah mengikuti pelatihan atau workshop film anak atau kegiatan pemberdayaan di bidang serupa di tempatnya (Misalnya, di ekskul sekolah atau di luar sekolah)*
-          Peserta wajib mengisi formulir dan mengikuti tahapan kegiatan FFA

FILM
-          Film yang diikutsertakan berdurasi maksimal 15 menit
-          Film yang diikutsertakan tidak mengandung tema-tema bernuansa SARA, pornografi/ pornoaksi, tidak memvisualisasikan kekerasan, tidak mempertunjukkan Drug/Rokok, tidak melanggar hak cipta orang lain baik secara audio maupun visual.
-          Film mempromosikan hak anak dan salah satu dari bentuk kota layak anak.
-          Screenplay film dikirim dalam format DVD atau AVI sebelum berakhir masa pendaftaran ke Sekteratiat FFA
-          Panitia mendapatkan hak publikasi dan sewaktu-waktu dapat mengambil seluruh atau sebagian isi untuk promosi hak anak, hak milik karya cipta tetap pada peserta
-          1`(satu) tim produksi boleh mengirimkan karya lebih dari 1 film dengan formulir terpisah.
-          Pengiriman film wajib dalam bentuk hardcopy dengan melampirkan softcopy cover film atau still foto (dalam CD) serta sinopsis sepanjang 30-50 kata
-          Film yang sudah diserahkan kepada panitia tidak dapat diambil kembali
-          Hasil penjurian bersifat tetap dan tidak dapat diganggu gugat   

KETENTUAN TAMBAHAN**
-          Tidak melanggar hak anak selama proses pembuatan dan pendampingan (Misalnya, meninggalkan aktifitas sekolah, )
-          Kompetisi FFA tahun ini untuk wilayah Sumatera Utara dan Aceh.
-          Karya Film Pemenang Kompetisi FFA ke 5 berkesempatan mengikuti kompetisi film nasional.
-          Peserta mendapat persetujuan dari orang tua

TAHAPAN KEGIATAN:
-          Pendaftaran Partisipasi workshop : 01-10 Oktober 2012
-          Workshop: 20-21  Oktober 2012
-          Produksi Film: 22 Okt- 04 Desember 2012
-          Penyerahan film Deadline 05 Desember 2012
-          Verifikasi : 06 – 08 Desember  2012
-          Penjurian Film/ Insan Film : 10-11  Desember 2012 
      Juri-juri:
a) Produser dan Praktisi Film   : Onny Kresnawan (SFD)
b) Praktisi Perlindungan Anak  : Ahmad Taufan Damanik (Wakil Ketua ACWC)
      c) Praktisi Keaktoran                : Eddy Siswanto
d) Perwakilan Anak                   : Ketua Forum Anak North Sumatera (FANS)
e) Wakil Pemerintah                  : Kepala Biro PPA-KB Provinsi Sumut
f) Psikolog                                : Fachnita FM

-          Publikasi Nominasi Film Terbaik:  11 – 14  Desember 2012
-          Malam Penganugerahan FFA 2012:  15 Desember 2012

SEKRETARIAT FFA
Pusat Kajian dan Perlindungan Anak
Jalan Abdul Hakim 5A, Pasar I –
Setia Budi, Tanjung Sari  Medan, Indonesia - 20238
Telp. (061) 8200170 – 8201113, Fax. 8213009
Kontak Person: 0852 7602 3129 (Opict)/ 0823 6964 4244 (Ismail)
Informasi Selengkapnya dapat di Unduh di blog FFA:
FB: festivalfilm anak

Link download formulir dan ketentuan : 




atau bisa langsung smskan saja email anda, dan akan kami kirim file nya.

Salam Anak Kreatif

* Verifikasi dilakukan dengan menyertakan lampiran sertifikat, surat keterangan dan foto kegiatan dari pelaksana. Jika memungkinkan verifikasi dapat dilakukan secara faktual. 
** Konsekwensi pengabaian dari ketentuan tambahan mengakibatkan film peserta didiskualifikasi berdasarkan laporan yang diterima panitia dari orang tua atau pihak sekolah.




Berbagi ke teman

Pengunjung